Dalil menyusui

FAIDAH DARI KISAH WANITA AL-GHOMIDIYYAH
Dalam kisah wanita al-Ghomidiyyah yang mengaku berzina dan minta dirajam terdapat faidah tentang pentingnya menyusui bagi anak. Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam menunda hukuman rajamnya sampai ia melahirkan dan menyapih anaknya. Kami nukilkan kisahnya secara ringkas dari hadits Buroidah rodhiyallohu anhu:
ﻓَﺠَﺎﺀَﺕْ ﺍﻟْﻐَﺎﻣِﺪِﻳَّﺔُ ﻓَﻘَﺎﻟَﺖْ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺇِﻧِّﻲ ﻗَﺪْ ﺯَﻧَﻴْﺖُ ﻓَﻄَﻬِّﺮْﻧِﻲ ﻭَﺇِﻧَّﻪُ ﺭَﺩَّﻫَﺎ ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﻛَﺎﻥَ ﺍﻟْﻐَﺪُ ﻗَﺎﻟَﺖْ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻟِﻢَ ﺗَﺮُﺩُّﻧِﻲ ﻟَﻌَﻠَّﻚَ ﺃَﻥْ ﺗَﺮُﺩَّﻧِﻲ ﻛَﻤَﺎ ﺭَﺩَﺩْﺕَ ﻣَﺎﻋِﺰًﺍ ﻓَﻮَﺍﻟﻠَّﻪِ ﺇِﻧِّﻲ ﻟَﺤُﺒْﻠَﻰ ﻗَﺎﻝَ ﺇِﻣَّﺎ ﻟَﺎ ﻓَﺎﺫْﻫَﺒِﻲ ﺣَﺘَّﻰ ﺗَﻠِﺪِﻱ ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﻭَﻟَﺪَﺕْ ﺃَﺗَﺘْﻪُ ﺑِﺎﻟﺼَّﺒِﻲِّ ﻓِﻲ ﺧِﺮْﻗَﺔٍ ﻗَﺎﻟَﺖْ ﻫَﺬَﺍ ﻗَﺪْ ﻭَﻟَﺪْﺗُﻪُ ﻗَﺎﻝَ ﺍﺫْﻫَﺒِﻲ ﻓَﺄَﺭْﺿِﻌِﻴﻪِ ﺣَﺘَّﻰ ﺗَﻔْﻄِﻤِﻴﻪِ ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﻓَﻄَﻤَﺘْﻪُ ﺃَﺗَﺘْﻪُ ﺑِﺎﻟﺼَّﺒِﻲِّ ﻓِﻲ ﻳَﺪِﻩِ ﻛِﺴْﺮَﺓُ ﺧُﺒْﺰٍ ﻓَﻘَﺎﻟَﺖْ ﻫَﺬَﺍ ﻳَﺎ ﻧَﺒِﻲَّ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻗَﺪْ ﻓَﻄَﻤْﺘُﻪُ ﻭَﻗَﺪْ ﺃَﻛَﻞَ ﺍﻟﻄَّﻌَﺎﻡَ ﻓَﺪُﻓِﻊَ ﺍﻟﺼَّﺒِﻲُّ ﺇِﻟَﻰ ﺭَﺟُﻞٍ ﻣِﻦْ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴﻦَ ﺛُﻢَّ ﺃَﻣَﺮَ ﺑِﻬَﺎ ﻓَﺤُﻔِﺮَ ﻟَﻬَﺎ ﺇِﻟَﻰ ﺻَﺪْﺭِﻫَﺎ ﻭَﺃَﻣَﺮَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ ﻓَﺮَﺟَﻤُﻮﻫَﺎ
“Lalu datang seorang wanita al-Ghomidiyyah, ia berkata : “wahai Rosululloh, aku telah berzina, maka sucikanlah aku!” Dan Rosululloh menolaknya. Ketika keesokan harinya, wanita itu berkata : “Wahai Rosululloh, mengapa engkau menolakku? Mungkin engkau menolakku sebagaimana engkau telah menolak Ma’iz, maka demi Alloh aku ini hamil!” Rosululloh berkata : “Tidak, pergilah sampai engkau melahirkan.” Ketika ia sudah melahirkan, ia mendatangi Rosululloh dengan membawa bayinya pada sebuah kain, ia berkata : “Ini aku sudah melahirkan.” Rosululloh berkata : “ Pergilah dan susuilah ia sampai engkau menyapihnya! ” Ketika ia telah menyapihnya, ia mendatangi Rosululloh dengan bayinya yang membawa remukan roti di tangannya, maka ia berkata : “Ini wahai Nabi Alloh, aku sudah menyapihnya dan ia sudah makan makanan.” Maka anak itu diserahkan kepada seseorang dari kaum muslimin, kemudian beliau memerintahkan untuk merajamnya, maka digalikan untuknya lubang sedalam dadanya lalu beliau memerintahkan orang-orang, kemudian mereka merajamnya.”
[HR. Muslim no. 1695, Abu Dawud no. 4442, Ahmad no. 22999, Ibnu Abi Syaibah no. 28809, dll dari jalan Abdulloh bin Buroidah, dari Buroidah]
Dalam riwayat lain Rosululloh berkata :
ﺇِﺫًﺍ ﻟَﺎ ﻧَﺮْﺟُﻤُﻬَﺎ ﻭَﻧَﺪَﻉُ ﻭَﻟَﺪَﻫَﺎ ﺻَﻐِﻴﺮًﺍ ﻟَﻴْﺲَ ﻟَﻪُ ﻣَﻦْ ﻳُﺮْﺿِﻌُﻪُ ﻓَﻘَﺎﻡَ ﺭَﺟُﻞٌ ﻣِﻦْ ﺍﻟْﺄَﻧْﺼَﺎﺭِ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺇِﻟَﻲَّ ﺭَﺿَﺎﻋُﻪُ ﻳَﺎ ﻧَﺒِﻲَّ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻗَﺎﻝَ ﻓَﺮَﺟَﻤَﻬَﺎ
“Kalau begitu kita tidak bisa merajamnya sedangkan kita biarkan anaknya yang masih kecil tanpa ada yang menyusuinya.” Lalu bangkit seorang dari Anshor, ia berkata : “aku yang akan menanggung persusuannya wahai Nabi Alloh.” Buroidah berkata : lalu wanita itu dirajam.
[HR. Muslim no. 1695 dari jalan Sulaiman bin Buroidah, dari Buroidah]
Al-Imam an-Nawawi berkata dalam Syarh Muslim (11/202) : “Dan Ketahuilah! Bahwa madzhab asy-Syafi’i, Ahmad, Ishaq, dan yang masyhur dari madzhab Malik : bahwa seorang wanita boleh tidak dirajam sampai didapatkan orang lain yang menyusui bayinya, dan jika tidak didapatkan maka wanita itu sendiri yang menyusuinya sampai disapih, baru kemudian dirajam.”
Seandainya menyusui bayi dengan ASI adalah perkara yang sepele atau tidak penting bagi bayi tersebut, tentu Rosulullohshollallohu alaihi wa sallam tidak akan menunda hukum rajam tersebut.
***
PERSUSUAN MENJADIKAN MAHROM
Dalam hadits ‘Aisyah :
ﺃَﻥَّ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻛَﺎﻥَ ﻋِﻨْﺪَﻫَﺎ ﻭَﺃَﻧَّﻬَﺎ ﺳَﻤِﻌَﺖْ ﺻَﻮْﺕَ ﺭَﺟُﻞٍ ﻳَﺴْﺘَﺄْﺫِﻥُ ﻓِﻲ ﺑَﻴْﺖِ ﺣَﻔْﺼَﺔَ ﻗَﺎﻟَﺖْ ﻓَﻘُﻠْﺖُ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻫَﺬَﺍ ﺭَﺟُﻞٌ ﻳَﺴْﺘَﺄْﺫِﻥُ ﻓِﻲ ﺑَﻴْﺘِﻚَ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺃُﺭَﺍﻩُ ﻓُﻠَﺎﻧًﺎ ﻟِﻌَﻢِّ ﺣَﻔْﺼَﺔَ ﻣِﻦْ ﺍﻟﺮَّﺿَﺎﻋَﺔِ ﻗَﺎﻟَﺖْ ﻋَﺎﺋِﺸَﺔُ ﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﻓُﻠَﺎﻥٌ ﺣَﻴًّﺎ ﻟِﻌَﻤِّﻬَﺎ ﻣِﻦْ ﺍﻟﺮَّﺿَﺎﻋَﺔِ ﺩَﺧَﻞَ ﻋَﻠَﻲَّ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻧَﻌَﻢْ ﺍﻟﺮَّﺿَﺎﻋَﺔُ ﺗُﺤَﺮِّﻡُ ﻣَﺎ ﺗُﺤَﺮِّﻡُ ﺍﻟْﻮِﻟَﺎﺩَﺓُ
Ketika Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam berada di rumahnya, ia (Aisyah) mendengar suara laki-laki minta izin (untuk masuk) di rumah Hafshoh. Aisyah berkata : lalu aku katakan : “wahai Rosululloh, laki-laki ini minta izin di rumahmu” Nabi shollallohu alaihi wa sallam berkata : “aku melihat ia adalah si Fulan, paman susunya Hafshoh” Aisyah berkata : “seandainya si Fulan masih hidup (paman susunya Aisyah) ia boleh masuk menemuiku?” Rosululloh berkata : “ya, persusuan menjadikan mahrom sebagaimana seseorang menjadi mahrom karena sebab kelahiran.”
[HR. al-Bukhori no. 2503, 2938 & 4811, Muslim no. 1444, dll]
***
ASI MENUMBUHKAN TULANG DAN DAGING
Ibnu Mas’ud rodhiyallohu anhu berkata :
ﻻﺭﺿﺎﻉ ﺇﻻ ﻣﺎ ﺷﺪ ﺍﻟﻌﻈﻢ ﻭﺃﻧﺒﺖ ﺍﻟﻠﺤﻢ
“Tidaklah dikatakan persusuan kecuali apa-apa yang menguatkan tulang dan menumbuhkan daging .”
[HR. Abu Dawud no. 2059, dishohihkan al-Albani (yakni secara mauquf dengan syawahid-nya pada riwayat Ahmad, ad-Daruquthni dan al-Baihaqi)]
***
ASALNYA WANITA ADALAH DI RUMAH
Allah berfirman :
ﻭَﻗَﺮْﻥَ ﻓِﻲ ﺑُﻴُﻮﺗِﻜُﻦَّ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﺒَﺮَّﺟْﻦَ ﺗَﺒَﺮُّﺝَ ﺍﻟْﺠَﺎﻫِﻠِﻴَّﺔِ ﺍﻟْﺄُﻭﻟَﻰ
“Tetaplah kalian (para wanita) di rumah-rumah kalian, dan janganlah kalian berhias sebagaimana orang-orang jahiliyyah dahulu berhias” [QS. al-Ahzab : 33]
Salah satu hikmah dari perintah ini adalah agar mereka dapat menyusui anak-anaknya dengan sempurna. Berbeda dengan para wanita karir yang sibuk bekerja di luar rumah, sehingga kebanyakan anak-anak mereka menyusu dengan susu formula.
Dari Ibnu Umar rodhiyallohu anhuma , Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda :
ﻛُﻠُّﻜُﻢْ ﺭَﺍﻉٍ ﻓَﻤَﺴْﺌُﻮﻝٌ ﻋَﻦْ ﺭَﻋِﻴَّﺘِﻪِ ﻓَﺎﻟْﺄَﻣِﻴﺮُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺭَﺍﻉٍ ﻭَﻫُﻮَ ﻣَﺴْﺌُﻮﻝٌ ﻋَﻨْﻬُﻢْ ﻭَﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﺭَﺍﻉٍ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻫْﻞِ ﺑَﻴْﺘِﻪِ ﻭَﻫُﻮَ ﻣَﺴْﺌُﻮﻝٌ ﻋَﻨْﻬُﻢْ ﻭَﺍﻟْﻤَﺮْﺃَﺓُ ﺭَﺍﻋِﻴَﺔٌ ﻋَﻠَﻰ ﺑَﻴْﺖِ ﺑَﻌْﻠِﻬَﺎ ﻭَﻭَﻟَﺪِﻩِ ﻭَﻫِﻲَ ﻣَﺴْﺌُﻮﻟَﺔٌ ﻋَﻨْﻬُﻢْ ﻭَﺍﻟْﻌَﺒْﺪُ ﺭَﺍﻉٍ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﺎﻝِ ﺳَﻴِّﺪِﻩِ ﻭَﻫُﻮَ ﻣَﺴْﺌُﻮﻝٌ ﻋَﻨْﻪُ ﺃَﻟَﺎ ﻓَﻜُﻠُّﻜُﻢْ ﺭَﺍﻉٍ ﻭَﻛُﻠُّﻜُﻢْ ﻣَﺴْﺌُﻮﻝٌ ﻋَﻦْ ﺭَﻋِﻴَّﺘِﻪِ
“Ketahuilah! Setiap dari kalian adalah orang yang diberi amanah, maka setiap kalian akan ditanya tentang amanahnya. Seorang amir (pemimpin suatu negri, pent) yang memimpin manusia adalah orang yang diberi amanah, dan ia akan ditanya tentang mereka. Dan seorang laki-laki adalah orang yang diberi amanah terhadap keluarganya, dan ia akan ditanya tentang mereka. Dan seorang wanita adalah orang yang diberi amanah terhadap rumah dan anak suaminya, dan ia akan ditanya tentang mereka. Dan seorang budak adalah orang yang diberi amanah terhadap harta majikannya, dan ia akan ditanya tentangnya. Ketahuilah! Setiap dari kalian adalah orang yang diberi amanah, maka setiap kalian akan ditanya tentang amanahnya.” [HR. al-Bukhori no. 2416, Muslim no. 1829, dll]
Kata [ﺭَﺍﻉٍ ] dalam hadits di atas biasanya diterjemahkan “ pemimpin”, akan tetapi kami terjemahkan dengan “ orang yang diberi amanah ” karena arti [ﺭَﺍﻉٍ] dalam hadits ini adalah [ ﺣﺎﻓِﻆٌ ﻣُﺆْﺗَﻤَﻦٌ ] / “ penjaga yang diberi amanah “, sebagaimana dijelaskan dalam an-Nihayah fi Ghoribil Atsar (2/581) dan Lisanul Arob (14/325).
***
IBROHIM PUN MENYEMPURNAKAN PERSUSUANNYA DI SURGA
Ibrohim di sini adalah anak Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam dari Mariyyah al-Qibthiyyah yang meninggal ketika masih bayi.
Dari al-Barro’ rodhiyallohu anhu:
ﻟَﻤَّﺎ ﻣَﺎﺕَ ﺇِﺑْﺮَﺍﻫِﻴﻢ ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ : ﺇِﻥَّ ﻟَﻪُ ﻣُﺮْﺿِﻌًﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔ
Ketika Ibrohim meninggal, Nabi shollallohu alaihi wa sallam bersabda : “Ia memiliki ibu susu di surga.”
[HR. al-Bukhori no. 1316, 3082 & 5842, dll]
Dalam lafadz lainnya Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda :
ﺇِﻥَّ ﻟَﻪُ ﻣُﺮْﺿِﻌًﺎ ﻳُﺘِﻢُّ ﺭَﺿَﺎﻋَﻪُ ﻓِﻲْ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ
“Ia memiliki ibu susu yang menyempurnakan persusuannya di surga.”
[HR. Ahmad no. 18647 & 18727]
Ibnu Hajar dalam al-Fath (10/579) berkata :
ﻟِﺄَﻧَّﻪُ ﻟَﻤَّﺎ ﻣَﺎﺕَ ﻛَﺎﻥَ ﺍِﺑْﻦ ﺳِﺘَّﺔ ﻋَﺸَﺮَ ﺷَﻬْﺮًﺍ ﺃَﻭْ ﺛَﻤَﺎﻧِﻴَﺔ ﻋَﺸَﺮَ ﺷَﻬْﺮًﺍ ﻋَﻠَﻰ ﺍِﺧْﺘِﻠَﺎﻑ ﺍﻟﺮِّﻭَﺍﻳَﺘَﻴْﻦِ ، ﻭَﻗِﻴﻞَ ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻋَﺎﺵَ ﺳَﺒْﻌِﻴﻦَ ﻳَﻮْﻣًﺎ
“…karena ia (Ibrohim) ketika meninggal adalah pada usia 16 bulan atau 18 bulan dengan adanya khilaf antara dua riwayat, dan dikatakan bahwa ia hanya hidup selama 70 hari.”
Akan tetapi, kami belum menemukan pendapat para ‘ulama tentang masalah apakah menyempurnakan persusuan di surga ini khusus bagi Ibrohim saja ataukah juga berlaku bagi bayi-bayi lainnya yang meninggal sebelum disapih? Wallohu A’lam .
***
RUKHSHOH BAGI IBU YANG MENYUSUI UNTUK MENINGGALKAN PUASA
Terdapat rukhshoh (keringanan) dalam syari’at bagi para ibu yang sedang menyusui untuk meninggalkan puasa Romadhon dengan membayar fidyah sebagai gantinya (dan masalah mengganti puasa ini ada khilaf dan bukan sekarang waktu untuk membahasnya). Hal ini disebabkan adanya masyaqqoh (kesulitan) untuk menyusui sambil berpuasa, dimana ibu menyusui butuh untuk minum dan makan yang mencukupi agar dirinya tetap kuat menyusui dan juga agar produksi ASI tetap lancar. Hal ini juga menunjukkan pentingnya menyusui anak dengan ASI. Karena seandainya tidak penting, bisa saja syari’at menentukan ibu menyusui tetap wajib berpuasa dan bayinya diberi minum dari susu-susu lain seperti susu sapi, dll. Sebagaimana dalam sebuah Mandhumah (syair):
ﺍﻟﺪﻳﻦ ﺟﺎﺀ ﻟﺴﻌﺎﺩﺓ ﺍﻟﺒﺸﺮ **** ﻭﻻﻧﺘﻔﺎﺀ ﺍﻟﺸﺮ ﻋﻨﻬﻢ ﻭﺍﻟﻀﺮﺭ
Ad-Diin datang untuk kemashlahatan manusia
………. Dan untuk menolak keburukan dan madhorot dari mereka
Dari Anas bin Malik al-Ka’bi rodhiyallohu anhu, ia berkata :
ﺃَﻏَﺎﺭَﺕْ ﻋَﻠَﻴْﻨَﺎ ﺧَﻴْﻞُ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻓَﺄَﺗَﻴْﺖُ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻓَﻮَﺟَﺪْﺗُﻪُ ﻳَﺘَﻐَﺪَّﻯ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺍﺩْﻥُ ﻓَﻜُﻞْ ﻓَﻘُﻠْﺖُ ﺇِﻧِّﻲ ﺻَﺎﺋِﻢٌ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺍﺩْﻥُ ﺃُﺣَﺪِّﺛْﻚَ ﻋَﻦْ ﺍﻟﺼَّﻮْﻡِ ﺃَﻭْ ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡِ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﻭَﺿَﻊَ ﻋَﻦْ ﺍﻟْﻤُﺴَﺎﻓِﺮِ ﺍﻟﺼَّﻮْﻡَ ﻭَﺷَﻄْﺮَ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓِ ﻭَﻋَﻦْ ﺍﻟْﺤَﺎﻣِﻞِ ﺃَﻭْ ﺍﻟْﻤُﺮْﺿِﻊِ ﺍﻟﺼَّﻮْﻡَ ﺃَﻭْ ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡَ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪِ ﻟَﻘَﺪْ ﻗَﺎﻟَﻬُﻤَﺎ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻛِﻠْﺘَﻴْﻬِﻤَﺎ ﺃَﻭْ ﺇِﺣْﺪَﺍﻫُﻤَﺎ ﻓَﻴَﺎ ﻟَﻬْﻒَ ﻧَﻔْﺴِﻲ ﺃَﻥْ ﻟَﺎ ﺃَﻛُﻮﻥَ ﻃَﻌِﻤْﺖُ ﻣِﻦْ ﻃَﻌَﺎﻡِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ
Kuda Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam lari kepada kami, lalu aku datangi Rosululloh sholallohu alaihi wa sallam , aku mendapatinya sedang makan pagi, beliau berkata : “Mendekat dan makanlah!” Aku katakan : “aku sedang puasa”, lalu beliau berkata : “mendekatlah, aku akan mengabarkan kepadamu tentang puasa, sesungguhnya Alloh ta’ala telah menggugurkan puasa dan setengah sholat bagi musafir, dan juga puasa bagi wanita hamil atau menyusui.” (Anas berkata) Demi Alloh! beliau telah mengucapkan keduanya atau salah satunya, aduhai sesalnya diriku tidak makan makanannya Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam .
[HR. at-Tirmidzi no. 715, Abu Dawud no. 2408, an-Nasa’i no. 2276, dll. Dishohihkan al-Albani dalam Shohih Abi Dawud no. 2107]
***
MENYUSUI SETELAH ANAK BERUSIA LEBIH DARI 2 TAHUN
Menyusui yang sempurna adalah sampai anak berusia 2 tahun sebagaimana dalam al-Baqoroh ayat 233, atau 30 bulan sejak masa kehamilan sebagaimana dalam al-Ahqof ayat 15, dan inilah yang utama.
Al-Imam Ibnu Abi Syaibah dalam
Mushonnaf-nya meriwayatkan perkataan seorang tabi’in:
ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺑﻦ ﻣﻬﺪﻱ ﻭﺃﺑﻮ ﺃﺳﺎﻣﺔ ﻋﻦ ﺳﻔﻴﺎﻥ ﻋﻦ ﺍﻷﻋﻤﺶ ﻋﻦ ﺇﺑﺮﺍﻫﻴﻢ ﺃﻥ ﻋﻠﻘﻤﺔ ﻣﺮ ﺑﺎﻣﺮﺃﺓ ﻭﻫﻲ ﺗﺮﺿﻊ ﺻﺒﻴﺎ ﻟﻬﺎ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﺤﻮﻟﻴﻦ ﻓﻘﺎﻝ ﻻ ﺗﺮﺿﻌﻴﻪ ﺑﻌﺪ ﺫﻟﻚ
Haddatsana Ibnu Mahdi dan Abu Usamah, dari Sufyan, dari al-A’masy, dari Ibrohim, bahwa Alqomah berjalan melewati seorang wanita yang sedang menyusui bayinya setelah 2 tahun, maka ia berkata: “ Jangan kamu susui ia setelah itu”. [Mushonnaf Ibni Abi Syaibah no. 17060]
Alqomah di sini adalah Alqomah bin Qois an-Nakho’i, salah seorang murid senior Abdulloh bin Mas’ud rodhiyallohu anhu.
Perkataan beliau ini bukanlah pengharaman tapi merupakan nasihat agar tidak menyusui lebih dari 2 tahun, karena itu yang lebih utama.
Adapun jika menyusui lebih dari itu maka boleh karena tidak ada dalil yang melarang, sebagaimana dalam difatwakan oleh syaikh Muqbil dalam kitab Fatawa al-Mar’ah al-Muslimah lil Imam al-Wadi’iy rohimahullohu ta’ala halaman 238, berikut ini terjemahannya:
Pertanyaan :
Bolehkah bagi wanita menyusui anaknya setelah lebih dari 2 tahun?
Jawaban :
Aku tidak mengetahui larangan dalam hal ini. Adapun firman Alloh ta’ala :
ﻭَﺍﻟْﻮَﺍﻟِﺪَﺍﺕُ ﻳُﺮْﺿِﻌْﻦَ ﺃَﻭْﻟَﺎﺩَﻫُﻦَّ ﺣَﻮْﻟَﻴْﻦِ ﻛَﺎﻣِﻠَﻴْﻦِ ﻟِﻤَﻦْ ﺃَﺭَﺍﺩَ ﺃَﻥْ ﻳُﺘِﻢَّ ﺍﻟﺮَّﺿَﺎﻋَﺔَ
“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan.” [QS. Al-Baqoroh : 233]
Maka ini kebanyakannya (orang-orang dalam menyapih bayinya, pent) dan inilah yang utama. Akan tetapi jika seorang bayi tersebut tidak mau berhenti dan ingin menambah dalam menyusu satu bulan, dua bulan atau tiga bulan, maka aku tidak mengetahui adanya larangan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penipuan berkedok uang soekarno di bank swiss

Daftar alamat faskes karawang

Teka teki kekayaan Soekarno di swiss