Yang Menang Janganlah Bangga


   Rasulullah SAW dalam hadits yang diriwayatkan oleh Uqbah bin ‘Aamir RA.
“ Apabila engkau melihat Allah memberi seorang hamba kelimpahan dunia atas maksiat-maksiatnya, apa yang ia suka, maka ingatlah sesungguhnya hal itu adalah istidraj “.

Kemudian Rasulullah SAW membaca ayat 44 dari QS. Al An’aam, yang artinya:

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa”
(HR Ahmad no. 17349)

Apa artinya kemenangan dan kekalahan?

Kemenangan bagi seseorang atau bagi sekelompok orang kerap dianggap sebagai sebuah kehormatan dan jalan menuju sebuah kemuliaan.

Bila standar moralnya adalah ukuran-ukuran yang bersifat duniawi maka tampaknya memang demikian.

Namun ada makna yang tak terjangkau oleh sisi batin kita dalam perkara itu.

Seorang pejabat yang berhasil meraih jabatan yang dikejarnya, ternyata justru jabatan itu menjadi awal dari malapetaka yang mengantarkannya ke penjara.

Seorang alim yang menjadi kaya dan terkenal ternyata di puncak ketenarannya justru menjadi pengantar pada kehidupanya yang penuh fitnah.

Kemenangan di dunia terkadang atau bahkan selalu membuat pemiliknya menjadi buta batinnya, lemah ruhaninya, dan goyah imannya karena terpedaya oleh kesenangan.

Itulah kejamnya dunia bagi mereka yang terhempas dari jalan Tuhannya.

Karena kemurkaan Tuhan boleh saja menghendaki kehancuran hamba-Nya pada kekalahan yang pahit dan boleh jadi juga Dia menghendaki kehancuran itu dengan kesenangan-kesenangan sebagai awal dari kehancuran jangka panjang.

Seorang pemenang juga sebenarnya sedang merepresentasikan keadaan orang-orang yang memenangkannya.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi, Rasulullah menyatakan bahwa kondisi pemimpinmu mencerminkan kondisi rakyat yang dipimpinnya. ( Kamaa Takunu Yuwalla ‘alaikum).

Jadi, bila karakter pemimpinnya buruk maka itulah kondisi dominan rakyat yang memilihnya.

Kita hanya bisa bersabar atas keburukan pemimpin dalam ketaatan kita kepadanya dan tetap mendoakan kebaikannya.

Kekalahan bagi setiap orang sering kali dianggap sebagai sebuah bentuk kehinaan, padahal boleh jadi Allah sedang menyelamatkannya dari bencana yang lebih besar dari musibah kekalahan yang dideritanya.

Nasib kekalahan yang menimpa orang beriman seharusnya tidak mengundang prasangka buruk kepada Allah. Kesabaran menjadi jalan utama untuk menjemput kabar gembira dari Allah SWT.

Pesan maknawiyah dibalik kemenangan dan kekalahan begitu sulit untuk ditebak.

Kita tidak berhak untuk menentukan apakah suatu kemenangan menjadi bab awal dari kemuliaan atau justru kehinaan seseorang.

Begitu pula dengan suatu kekalahan yang tak dapat divonis sebagai sebuah kehinaan, karena boleh jadi kekalahan itulah yang menjadi sumber kemuliaannya di sisi Tuhannya.

Kita hanya dapat mengambil pelajaran dari umat-umat terdahulu serta mengambil hikmah dari setiap skenario Allah dalam rangkaian dinamika kehidupan yang kita jalani.

Husnudzan adalah sikap batin yang paling baik dilakukan agar Allah senantiasa memberikan taufik-Nya...aamiiin
والله اعلم....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penipuan berkedok uang soekarno di bank swiss

Daftar alamat faskes karawang

Teka teki kekayaan Soekarno di swiss